Selamat Datang

Terima kasih anda telah mengunjungi blog ini

Jumat, Juli 11, 2008

Berpelukan dengan kesedihan...

Kesenangan adalah kesedihan yang terbuka kedoknya. Tawa dan airmata datang dari sumber yang sama. Semkin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan (KAHLIL GIBRAN)


Kalau boleh memilih, ada banyak sekali manusia yang hanya mau
kebahagiaan, dan membuang kesedihan. Sayangnya, sebagaimana alam yang
mengenal siklus, kehidupan manusia pun mengenal siklus. Kesedihan dan
kebahagiaan adalah salah satu dari banyak siklus yang harus kita lalui.

Tidak ada kehidupan yang tidak diwarnai oleh kesedihan. Diundang maupun
tidak, ia akan senantiasa datang. Banyak kejadian bahkan terbukti,
semakin ia dibenci dan ditakuti, semakin ia senang dan rajin berkunjung
ke diri kita. Maka, sengsaralah hidup mereka yang membenci kesedihan.

Bercermin dari goresan Kahlil Gibran di atas, kesedihan dan kegembiraan
adalah dua saudara kembar yang melakukan kegiatannya secara bergantian.
Keserakahan, atau sebaliknya kekhusukan doa manusia mana pun tidak akan
bisa membuat dua saudara kembar ini berpisah. Ia seperti dua sayap dari
seekor burung. Dibuangnya salah satu sayap, adalah awal dari celakanya
"burung" kehidupan.

Kahlil Gibran sampai pada pemahaman yang lebih dalam. Tanpa kesedihan,
jiwa manapun tidak akan memiliki daya tampung yang besar terhadap
kebahagiaan. Ketika kita bercengkrama dengan kebahagiaan di ruang tamu,
kesedihan sedang menunggu di pembaringan.

Persoalannya adalah, punyakah kita cukup keberanian dan kesabaran untuk
berpelukan mesra dengan kesedihan? Nah, inilah sebuah kualitas pribadi
yang dimiliki oleh sangat sedikit orang. Untuk menerima kebahagiaan,
kita tidak memerlukan terlalu banyak kedewasaan. Akan tetapi, untuk
berpelukan mesra dengan kesedihan, diperlukan kearifan dan kedewasaan
yang mengagumkan

Tidak ada komentar: